Bertanya pada Hampa
Syamsul Maarif
Benarkah kita benar benar merdeka?
Tatkala kebahagiaan dalam setiap warganya tertekan oleh keadaan yang tak mampu dijelaskan saking rumitnya permasalahan
Tak seperti hutan yang di dalamnya banyak burung yang bertebaran tanpa harus terbebani oleh sikut-sikutan
Pun layaknya ayam didepan pekarangan atau di belakang rumah padang rumput yang kenyang
Tenang dalam pikiran layaknya pohon berdiri tanpa pijakan kaki-kaki oligarki menghapus kegelisahan abadi menjadi ilusi
Harap dan asa yang besar kenyang yang mengalir dan terus mengalir bak air terjun yang berasal dari sumber
Hey, sekali lagi ku tanyakan, apakah kita benar-benar merdeka?
Penguasa layaknya tuhan bohongan pada kekuasaannya yang tuli dan bisu tak mau mendengar dan berbicara kepada hambanya
Menangis petang malam mengadu pada tuhannya yang tak mau mendengar. Merintih tiada henti karna lapar yang tak mampu menepi
Sekadar berbicara oh tidak bisa
Dipaksa kenyang oleh keadaan namun ditampar lapar oleh kenyataan. Siapa yang buat itu? Senatural air yang mengalir dari hulu ke hilir tanpa bebankah? Atau? Oh aku diam saja
Kepada siapa lagi aku bertanya?
Kepada kalian kah kawan?
Kulihat kau tiap hari senang senang dengan HP miringmu apatis tiada peduli
Apakah kuharus ajak dulu kalian untuk bilang
"Kemarilah kawan!!!"
Kami tidak menemanimu pada jalan keterlenaan
Terhina oleh pengetahuan yang tak bergunamu sendiri
Atau memang tidak tahu???
Apapun itu
Dicari atau pun tidak? Mana peduli?
Apakah kita melihat dunia dengan pandangan yang sama?
Oh iya aku lupa kalau kau tidak mau disamakan
Sini ku kabarkan tentang dunia dalam kacamataku!!!
Seram!!!
Pangeran yang sudah tidak ditakuti...
Dengan pongah mengusung dada berjalan tiada peduli
Menakutkan!!!
Terteror bom sepanjang perjalanan menanti waktu
Dihantui bisikan-bisikan kesengsaraan
Kau lihat bomnya kan?
Tidak?
Nah!
Tapi.....
Ah kau itu terlalu ribet!!!
Ikuti sajalah aku!!!
Dan jangan berhenti!!!!
Lantas kepada siapa pagi aku bertanya?
HAMPA

Komentar
Posting Komentar