Budaya Kolot Himpunan Perkaderan
Himpunan Mahasiswa Islam sebuah nama yang tidak asing lagi dikalangan mahasiswa, karena organisasi ini adalah salah satu organisasi tertua di Indonesia. Saat ini HMI sendiri sudah berumur 75 tahun, bukan suatu umur yang muda bukan? semakin tua suatu organisasi harapannya adalah semakin berkembangnya sistem dan perkaderan yang ada. 75 tahun bukan waktu yang singkat, lalu apakah HMI sudah optimal dalam pergerakannya? HMI sendiri memiliki tujuan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Namun penerapan tujuan tersebut pada saat ini sangatlah jauh dari apa yang diharapkan HMI. Salah satu permasalahan kolot yang ada dijajaran kehidupan HMI adalah manajemen waktu yang sangat buruk, hal ini bisa dilihat dalam lingkup paling kecil yaitu acara komisariat dan yang paling besar adalah acara PB HMI.
Kondisi menejemen
waktu HMI saat ini sangatlah kurang, hal ini dapat dilihat dari kehadiran anggota yang selalu
terlambat dalam menghadiri kegiatan yang diadakan mulai dari komisariat hingga
pengurus besar, tidak hanya anggota bahkan dari para pengurus pun sering terlambat
dalam menghadiri kegiatan-kegiatan yang diadakan, keterlambatan di HMI sendiri
bisa dibilang sangat tidak pantas terjadi didalam sebuah organisasi mahasiswa
yang notabene mengerti akan cara menejemen waktu yang baik, bahkan di HMI
sendiri kita diajarkan cara memenejemen waktu yang baik dan benar, akan tetapi
aksi yang dilakukan sangatlah minim.
Tidak hanya itu, di HMI sendiri pengetahuan
tentang nilai agama tidak diragukan lagi, akan tetapi, penerapan akan pemahaman
itu bisa dibilang sangat minin, pemahaman-pemahaman berkaitan nilai agama
biasanya hanya diorasikan pada saat diskusi-diskusi yang hanya menciptakan
suasana diskusi yang hidup dan panas, bahkan kadang kala diskusi-diskusi ini
menyebabkan telat melaksanakan sholat lima waktu, padahal kita tau sendiri
bagaimana keutamaan sholat diawal waktu, akan tetapi aksi yang direalisasikan
sangatlah minim. Dalam HMI sendiri terdapat konstitusi yang mengatur bagaimana
arah gerak keagamaan yang ada di HMI yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadist.
Konstitusi sendiri dalam HMI merupakan pondasi tentang bagaimana cara kerja organisasi ini, sedangkan apakah selama ini HMI sendiri dalam perjalanan kerjanya selalu sesuai dengan konstitusi?. Kita kembali lagi dalam penerapan konstitusinya, dapat dilihat dan diambil contoh dari training LK 2, sering kali konstitusi yang berbunyi “untuk kader dalam mengikuti LK 2 minimal sudah selesai LK 1 selama 6 bulan”, tetapi dalam kenyataannya masih banyak kasus yang melanggar konstitusi tersebut, lantas adakah kepentingan lain yang memang menjadi landasan kenapa kasus ini bisa terjadi? tentu saja karena kepentingan politik kader serta komisariat yang menjadi latar belakang terjadinya kasus ini.
Namun dari banyaknya problematika yang ada, maanfaat yang dirasakan dalam berorganisasi di HMI sendiri sangatlah besar, bertambahnya relasi, berfikir keritis, kemampuan public speaking dan kita dapat belajar pengetahuan diluar jurusan. Dalam meningkatkan HMI yang sadar akan tujuanya, pastinya tidak lepas dari peran angota HMI itu sendiri, inofasi-inofasi seperti menejerial waktu, lebih mengoptimalkan kegiatan, pemetan kegiatan yang lebih terstruktur, menerima pembaharuan dan bergerak dari zona nyaman adalah hal yang dapat dikembangkan di HMI.
Selanjutnya Langkah apa yang harus dilakukan agar budaya kolot dan buruk hilang? Ambil peranlah dari kesadaran diri akan permasalahan yang terjadi, mulailah rubah dari diri masing-masing akan penyelesaian permasalahan ini walapun hakekatnya permasalahan suatu organisasi diseleaikan dengan keputusan serta Langkah penyelesaian dari organisasi pula, tetapi jika kita hanya menyandarkan permasalahan yang sudah mandarah daging ini kepada organisasi apakah selesai?. Ambil peran tak harus kalian masuk pengurus besar bukan? Lakukan penyebaran kesadaran akan pentingnya waktu serta taat akan konstitusi sejak dari tingkatan terendah organisasi yaitu komisariat, karena proses nyata perubahan dalam tubuh organisasi akan lebih mudah penularan serta pengimplementasian di tempat perkaderan paling tulus sekali lagi yaitu komisariat.
Harapan
untuk HMI kedepanya semoga lebih
memprioritaskan waktu yang ada agar waktu yang diberikan anggota dalam
berorganisasi tidak terbuang sia-sia, sadar akan tujuan HMI, semoga ilmu yang
didapat tidak hanya diorasikan melainkan diterapkan dengan aksi-aksi yang nyata, dan menjadikan HMI
sebagai wadah untuk mencapai tujuan dan cita-cita bukan menjadikan HMI sebagai
himpunan yang mendeskriminasi serta menjadikan anggotanya sebagai budak politik
bagi seniornya.
Komentar
Posting Komentar